Posted by: johansetianto | October 21, 2008

Berubah

Oleh : Johan Setianto

Suatu saat saya bertanya pada seorang rekan saya yang membuat soal ujian yang sama dengan soal yang dia buat untuk menguji mahasiswanya beberapa tahun yang lalu. Dengan tenang dia menjawab bahwa soal yang dibuatnya memang sama dengan soal beberapa tahun yang lalu, tetapi sebenarnya jawaban yang benar sudah berbeda dengan jawaban beberapa tahun yang lalu. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa perubahan terus terjadi di muka bumi ini dan yang abadi pada kehidupan kita adalah perubahan itu sendiri. Oleh karena itu masalah-masalah yang kita hadapi saat ini mungkin masih tetap sama dengan yang dulu-dulu, tetapi cara penyelesaiannya ataupun solusinya sudah berbeda. Pendapat teman ini menjadi sangat menarik dan debatable dalam sebuah diskusi kecil yang dilakukan. Beberapa peserta diskusi sependapat dengan pernyataan yang abadi hanyalah perubahan. Menjadi lebih menarik adalah perubahan pada individu-individu menuju ke arah yang lebih baik.

Hampir setiap saat dalam berbagai kesempatan kita sering mendengar kata berubah, namun benarkah kita telah berubah?. Ada sebuah cerita yang menceritakan seorang pimpinan yang ingin terjadi perubahan di dalam organisasi kepemimpinannya. Untuk meyakinkan keinginannya, dia mengundang seorang konsultan perubahan yang sangat kondang di kotanya. Ketika sang konsultan datang, dengan panjang lebar sang pemimpin menceritakan keinginannya kepada sang konsultan. Cerita panjang lebar sang pemimpin, ternyata hanya dijawab dengan singkat sang konsultan: maukah anda mencukur kumis tebal anda?. Mendengar jawaban itu sang pemimpin marah-marah karena kumis kesayangannya itu telah dipelihara bertahun-tahun dengan rapi kok malah disuruh digunting oleh sang konsultan. Akhirnya sang pemimpin mengusir sang konsultan dan tidak akan mengikuti saran yang diberikan.

Cerita di atas, sebenarnya sang konsultan ingin menunjukkan pada sang pemimpin bahwa berubah itu tidak cukup hanya diucapkan, tetapi perlu dilakukan dengan sepenuh hati. Bagaimana mungkin sang pemimpin akan berubah dan membawa perubahan pada organisasinya, kalau hanya sekedar mencukur kumis tebalnya saja sang pemimpin tidak mau. Seorang yang mau berubah harus mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang terlihat sekilas tidak mengganggu, santai, menyenangkan, dan hal-hal lain yang nyaman. Kemudian menggantikannya dengan kebiasaan-kebiasaan yang memaksanya untuk berfikir keras, bekerja lebih keras, menjalani tantangan yang berat dan lain sebagainya untuk menuju masa depan yang lebih cerah.

Bagaimana dengan kita?

Posted by: johansetianto | October 21, 2008

Jaringan

Oleh : Johan Setianto

Saat menulis kolom ini saya sedang berusaha menghilangkan rasa jenuh karena sedang menunggu penerbangan berikutnya ke Chiang Mai. Mungkin karena sudah terlalu lama ngobrol mengisi perjalanan Jakarta-Bangkok, membuat saat-saat menunggu di bandara Internasional Survarnabhumi, Bangkok menjadi cukup menjenuhkan. Banyak hal sudah di obrolkan dalam perjalanan pesawat boeing 777 200ER milik perusahaan Thai Airways, membuat kami hampir kehabisan bahan obrolan.

Tak disangka dalam perjalanan tersebut saya bertemu dengan beberapa orang dari beberapa perguruan tinggi yang berbeda. Setelah ngobrol-ngobrol cukup lama, tanpa disadari kami semua mempunyai tujuan yang hampir sama ( bukan kota tujuan ). Ada yang sedang melaksanakan kerjasama penelitian, tukar menukar staf pengajar dan sebagainya. Pada dasarnya semuanya sedang menjajagi ataupun sedang melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pembangunan jaringan (network). Mereka sepakat bahwa membangun jaringan dan sekaligus memanfaatkan jaringan yang telah dibuat menjadi sebuah keharusan institusi, apalagi bagi institusi perguruan tinggi. Perkembangan ilmu pengethauan dan teknologi yang begitu pesat menuntut institusi ini untuk cepat pula tanggap dan sekaligus mengantisipasi perkembangan tersebut.

Membangun jaringan akademik maupun jaringan lainnya sebenarnya gampang-gampang sulit kata teman baru saya yang akan menjalin jaringan dengan salah satu perguruan tinggi di Bangkok. Dibilang gampang, karena dia bisa memanfaatkan jaringan lamanya ketika sama-sama kuliah dulu (baik di Eropa maupun di negara-negara lain), tetapi ada teman lain yang bilang susah karena dia memulai dari baru sama sekali. Namun demikian kata teman yang lain, sepanjang kita mampu berkomunikasi dengan baik dan dapat meyakinkan fihak lain bahwa kita punya sesuatu yang layak di kerjasamakan, rasanya membangun jaringan itu tidaklah terlalu sulit. Barangkali benar kata teman-teman tersebut. Yang jelas sanggah teman lain, jaringan menjadi sangat-sangat penting saat ini dan saat mendatang. Sebuah institusi maupun individu yang tidak mempunyai jaringan akan terseok-seok menjalankan roda institusinya maupun kehidupan individunya. Oleh karena itu bisa dikatakan tidak bisa lagi hidup baik tanpa memiliki jaringan. Tentu saja ini barangkali terlalu berlebihan dalam mengungkapkan pentingnya jaringan, tetapi paling tidak itulah kenyataan yang harus dihadapi.

Akankah para pemimpin kita berfikir ke sana? Silakan jawab sendiri sesuai dengan hati nurani masing-masing.

Posted by: johansetianto | October 21, 2008

Berfikir Negatif

Oleh Johan Setianto

 

          Sejak krisis multidimensi melanda negeri kita beberapa tahun lalu, sampai saat ini sebagian masyarakat kita berpendapat masih banyak masalah yang dihadapi baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Berbagai masalah muncul silih berganti dalam kehidupan individu maupun kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Barangkali bisa dikatakan tidak ada yang dapat membantah kalau kita memang sedang menghadapi berbagai masalah. Dalam situasi seperti ini tak heran bila yang terjadi kemudian semua orang saling menyalahkan, tidak ada yang mau memecahkan atau memperbaiki masalahnya sendiri.

Fenomena di atas menjadi suatu keprihatinan bersama. Dalam sebuah diskusi kecil mengenai fenomena di atas, ada suatu ungkapan menarik yang dikemukakan oleh seorang rekan peserta diskusi. Dia mengatakan bahwa sesungguhnya masalah yang paling besar yang sedang kita hadapi adalah sikap kita terhadap masalah itu sendiri. Dia mengatakan bahwa kita selalu menghadapi masalah dengan cara berfikir negatif. Sambil mengutip pendapat seorang penulis buku, dia mengatakan bahwa cara berfikir negatif menyebar seperti wabah penyakit di seluruh lapisan masyarakat. Tidak mudah bagi kita untuk melindungi diri dari penularan cara berfikir seperti ini. Cara berfikir seperti ini menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut, melalui obrolan-obrolan ringan di berbagai tempat, maupun melalui berbagai media massa baik cetak maupun elektronik yang tersebar di seluruh negeri. Penyebarannya sangat cepat, apalagi dalam kondisi negara yang sedang sulit. Pada situasi seperti ini kecenderungan yang biasanya mudah timbul adalah bereaksi secara negatif yang kemudian memunculkan cara berfikir negatif. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa, sekali suatu usaha, organisasi, kehidupan atau negara terpengaruh oleh cara berfikir negatif, penyakit ini akan menyerang pikiran, hati dan jiwa seperti rayap yang diam-diam menggerogoti sistim penunjang perasaan. Dengan demikian yang muncul ke permukaan adalah kebiasaan yang selalu menyalahkan.     

           Pendapat teman di atas dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Kita dapat melihat atau membaca, banyak yang saling menyalahkan dalam menghadapi permasalahan. Semua merasa berhak dan pantas menyalahkan orang lain tanpa mau memberikan solusi yang dibutuhkan. Seakan dengan menyalahkan mereka dapat menyelesaikan permasalahan. Seakan pula masyarakat kita terdidik untuk hanya bisa menyalahkan, maka tiada hari tanpa menyalahkan sesuatu.

Seorang teman saya yang lain berkata kalau cara berfikir negatif dalam menghadapi masalah dibiarkan berkembang terus, kapan masyarakat kita akan mampu bersikap positif menghadapi masalah. Padahal dengan cara berfikir positif segala permasalahan niscaya akan mampu diatasi dengan baik. Kita harus tetap berfikir positif dan optimis dapat mengatasi segala permasalahan yang menghadang, bukankah begitu kawan ???    

                             

Posted by: johansetianto | October 14, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories