Oleh : Johan Setianto
Suatu saat saya bertanya pada seorang rekan saya yang membuat soal ujian yang sama dengan soal yang dia buat untuk menguji mahasiswanya beberapa tahun yang lalu. Dengan tenang dia menjawab bahwa soal yang dibuatnya memang sama dengan soal beberapa tahun yang lalu, tetapi sebenarnya jawaban yang benar sudah berbeda dengan jawaban beberapa tahun yang lalu. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa perubahan terus terjadi di muka bumi ini dan yang abadi pada kehidupan kita adalah perubahan itu sendiri. Oleh karena itu masalah-masalah yang kita hadapi saat ini mungkin masih tetap sama dengan yang dulu-dulu, tetapi cara penyelesaiannya ataupun solusinya sudah berbeda. Pendapat teman ini menjadi sangat menarik dan debatable dalam sebuah diskusi kecil yang dilakukan. Beberapa peserta diskusi sependapat dengan pernyataan yang abadi hanyalah perubahan. Menjadi lebih menarik adalah perubahan pada individu-individu menuju ke arah yang lebih baik.
Hampir setiap saat dalam berbagai kesempatan kita sering mendengar kata berubah, namun benarkah kita telah berubah?. Ada sebuah cerita yang menceritakan seorang pimpinan yang ingin terjadi perubahan di dalam organisasi kepemimpinannya. Untuk meyakinkan keinginannya, dia mengundang seorang konsultan perubahan yang sangat kondang di kotanya. Ketika sang konsultan datang, dengan panjang lebar sang pemimpin menceritakan keinginannya kepada sang konsultan. Cerita panjang lebar sang pemimpin, ternyata hanya dijawab dengan singkat sang konsultan: maukah anda mencukur kumis tebal anda?. Mendengar jawaban itu sang pemimpin marah-marah karena kumis kesayangannya itu telah dipelihara bertahun-tahun dengan rapi kok malah disuruh digunting oleh sang konsultan. Akhirnya sang pemimpin mengusir sang konsultan dan tidak akan mengikuti saran yang diberikan.
Cerita di atas, sebenarnya sang konsultan ingin menunjukkan pada sang pemimpin bahwa berubah itu tidak cukup hanya diucapkan, tetapi perlu dilakukan dengan sepenuh hati. Bagaimana mungkin sang pemimpin akan berubah dan membawa perubahan pada organisasinya, kalau hanya sekedar mencukur kumis tebalnya saja sang pemimpin tidak mau. Seorang yang mau berubah harus mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang terlihat sekilas tidak mengganggu, santai, menyenangkan, dan hal-hal lain yang nyaman. Kemudian menggantikannya dengan kebiasaan-kebiasaan yang memaksanya untuk berfikir keras, bekerja lebih keras, menjalani tantangan yang berat dan lain sebagainya untuk menuju masa depan yang lebih cerah.
Bagaimana dengan kita?